|
¡¡ |
KEGIATAN KBRI

Kunjungan Lemhannas ke Korea Selatan
tanggal 20-24 Juni 2010
Pada 20-24
Juni 2010, Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhannas) melakukan kunjungan ke
Korea Selatan dalam rangka Studi Strategis Luar Negeri (SSLN) Program
Pendidikan Reguler Angkatan (PPRA) XLIV. Korea Selatan menjadi salah
satu negara tujuan studi strategis luar negeri selain Inggris, Polandia,
dan Bulgaria.
Tujuan
kunjungan adalah untuk memperoleh informasi dan pemahaman secara
mendalam mengenai lembaga-lembaga pemerintahan di negara akreditasi,
serta permasalahan dan pengaruhnya terhadap hubungan bilateral,
khususnya terhadap kepentingan nasional Indonesia, serta di tingkat
regional dan global. Rombongan berjumlah 31 (tiga puluh satu) orang,
terdiri dari berbagai institusi antara lain TNI, Kepolisian RI,
Kementerian Kelautan dan Perikanan, Kementerian Komunikasi dan
Informatika, Mahkamah Agung, Konferensi Wali Gereja Indonesia,
Kementerian Pendidikan Nasional, Persatuan Wartawan Indonesia (PWI),
Badan Koordinasi Keamanan Laut, Kementerian Perhubungan, serta
perwakilan peserta asing dari Yordania dan Lao PDR. Rombongan dipimpin
oleh Inspektur Jenderal Polisi, Zainal Abidin Ishak.
Pada 21 Juni
2010, Duta Besar RI Seoul, Nicholas T. Dammen, menyambut secara langsung
rombongan di Wisma Dubes RI. Setelah memberikan sambutan, Dubes RI
melanjutkan acara dengan paparan dan sesi diskusi mengenai perkembangan
hubungan bilateral Indonesia dan Korea Selatan di bidang politik,
pertahanan, ekonomi, perdagangan, sosial budaya, dan konsuler serta ilmu
pengetahuan dan teknologi, sesuai dengan tema kunjungan Lemhannas, yaitu
¡°IPTEK dalam rangka Ketahanan Nasional¡±.
Selanjutnya
rombongan melakukan kunjungan ke berbagai institusi pemerintah setempat,
yaitu Kementerian Pertahanan; Kementerian Pendidikan, Sains, dan
Teknologi; Kementerian Administrasi Publik; Kementerian Perencanaan dan
Koordinasi, Korea National Defense University; serta Korea Aerospace
Industry. Perjalanan ditutup dengan melakukan kunjungan ke Korean
Demilitarized Zone (DMZ) di perbatasan Korea Utara dan Korea Selatan.
¡¡ |

Peresmian Ruangan Pelayanan Masyarakat di
KBRI Seoul
Pada hari
Kamis tanggal 17 Juni 2010, Wakil Menteri Luar Negeri RI yang sedang
berkunjung ke Korea Selatan selaku Utusan Khusus Pemerintah RI dalam
rangka Bali Democracy Forum telah meresmikan ruangan pelayanan
masyarakat KBRI Seoul. Seperti diketahui sejak diresmikannya gedung KBRI
Seoul tahun 1977, fungsi konsuler hanya memiliki satu buah loket. Dengan
semakin bertambahnya jumlah WNI yang berdiam di Korsel dimana saat ini
berjumlah sekitar 30 ribu orang, maka aktifitas pelayanan masyarakat
KBRI Seoul semakin meningkat dari waktu ke waktu. Jumlah warga yang
memerlukan pelayanan setiap harinya rata‐rata 100 sampai 150 orang
sehingga tidak mungkin lagi dilayani dengan 1 loket pelayanan. Dengan
adanya 10 buah loket baru tersebut, diharapkan pelayanan warga baik
Indonesia, Korea maupun asing lainnya dapat dilakukan secara lebih baik,
cepat dan tepat waktu.
Sepuluh loket
tersebut juga dilengkapi dengan jaringan komputer untuk keperluan
pendataan yang terhubung dengan semua komputer di loket sehingga
memudahkan dan mempercepat proses pelayanan. Selain itu untuk mengatur
antrian, loket juga dilengkapi dengan mesin nomor antrian. Ruangan
tunggu juga memiliki dua layar LCD besar yang ditempatkan diatas loket
yang menayangkan informasi kekonsuleran dan film promosi Indonesia.
Terdapat pula sebuah ruang konsultasi bagi pengunjung yang memerlukan
konsultasi khusus, ruangan sholat dan toilet utk pria dan wanita.
Dalam
sambutannya, Wakil Menteri Luar Negeri RI menyampaikan penghargaan atas
upaya peningkatan pelayanan warga dengan memeperbaiki dan memelihara
ruangan kekonsuleran KBRI Seoul yang sejalan dengan proses benah diri
yang telah dirintis oleh Kementerian Luar Negeri (Kemlu) sejak tahun
2001. Proses benah diri yang dilakukan Kemlu memang menuntut komitmen
penuh yang dijalankan secara profesional menuju pemerintahan yang baik
dan pelayanan prima. Sesuai dengan salah satu tugas perwakilan RI di
luar negeri yaitu untuk melindungi warga negaranya, Menteri Luar Negeri
telah memberikan instruksi bahwa staff di perwakilan sudah bukan saatnya
untuk menempatkan diri sebagai ¡°pejabat¡±. Keberpihakan terhadap warga
negara Indonesia (WNI) merupakan kewajiban dan setiap staff KBRI perlu
menempatkan diri sebagai ¡°pelayan¡± warga.
Pada
kesempatan yang sama Dubes RI Seoul menyampaikan bahwa perbaikan dan
pemeliharaan ruangan pelayanan kekonsuleran disamping merupakan upaya
KBRI Seoul untuk meningkatkan pelayanan terhadap WNI di Korsel yang
terus bertambah. Hal itu juga dimaksudkan untuk menciptakan organisasi
dan profesi yang transparan, kapabel dan bersih serta meningkatkan citra
Indonesia di kalangan masyarakat Korsel khususnya yang berkunjung ke
ruangan pelayanan masyarakat KBRI Seoul. Selain itu, perbaikan ini juga
merupakan bagian dari peningkatan keamanan di lingkungan KBRI Seoul,
karena tamu‐tamu yang datang untuk keperluan kekonsuleran memiliki pintu
masuk terpisah.
Malam harinya,
Wakil Menteri Luar Negeri RI melakukan tatap muka dan ramah tamah dengan
seluruh staf KBRI Seoul beserta keluarga serta wakil‐wakil masyarakat
Indonesia yang sempat hadir di Wisma Duta KBRI Seoul.
¡¡ |

Promosi budaya Indonesia dalam
pameran Hi Seoul Festival
Seoul 8-9 Mei 2010
Hi Seoul Festival adalah pameran
yang diadakan pemerintah Korea Selatan (Korsel) dalam memperingati ulang
tahun kota Seoul yang sudah berumur lebih dari 600 tahun.
Salah satu kegiatan festival
adalah Seoul Friendship Fair yang khusus diadakan untuk perwakilan asing
dalam mempromosikan budaya mereka. Dalam Hi Seoul 2010,sebanyak 58
negara berpartisipasi dalam Seoul Friendship fair yang terbagi dalam
tiga jenis promosi yaitu kerajinan, makanan dan seni budaya. Pameran ini
diadakan tanggal 8-9 Mei 2010 bertempat di pusat kota Seoul yaitu di
depan city hall (kantor gubernur Seoul).
Indonesia yang diwakili oleh KBRI
Seoul membuka dua stand untuk mempromosikan puluhan produk kerajinan dan
sejumlah jenis makanan tradisional. Kedua stand Indonesia terlihat lebih
atraktif dibandingkan stand lainnya karena terdapat dua payung Bali
besar dan dekorasi lainnya. Stand Indonesia juga nampak paling banyak
didatangi pengunjung, khususnya stand makanan. Sate ayam yang di
panggang di depan stand merupakan makanan favorit pengunjung. Sebanyak
1500 tusuk sate terjual habis beberapa jam sebelum penutupan pameran.
Ternyata jerih payah staf KBRI Seoul dan Dharma Wanita KBRI Seoul
tidaklah sia sia dengan terpilihnya stand makanan Indonesia sebagai the
most generous booth. Piala penghargaan diberikan oleh wakil gubernur
Seoul di panggung utama festival pada penutupan Seoul Friendship Fair
2010 tanggal 9 Mei 2010.
Disamping promosi produk
kerajinan dan makanan tradisional, Seoul Friendship Fair juga diisi
dengan pertunjukkan kesenian dari sejumlah negara. Kegiatan ini
merupakan bagian dari perwujudan kerjasama sister city kota Seoul dengan
17 kota termasuk Jakarta. Untuk mengisi acara ini, sejumlah penari
Indonesia yang dikoordinir oleh Dinas Pariwisata dan dan Kebudayaan
Pemda DKI mempertunjukkan beberapa tarian. Pertunjukan tarian
tradisional ini pun mendapat sambutan hangat dari para pengunjung
pameran. Setelah turun dari panggung usai menari, para penari Indonesia
menjadi rebutan para pengunjung untuk berfoto bersama.
Melihat apresiasi yang kami
terima dan apresiasi dari pengunjung yang tidak hanya warga Korsel namun
juga para ekspatriat, KBRI Seoul akan terus meningkatkan kualitas
promosi budaya dalam acara serupa. Kegiatan semacam ini cukup efektif
untuk mempromosikan Indonesia karena disamping tidak ada biaya sewa
booth, event ini dikenal luas oleh masyarakat karena dipromosikan oleh
pemerintah setempat.
¡¡ |

Promosi budaya Indonesia dalam acara
School Tour Program
yang diselenggarakan oleh ASEAN – ROK Centre di
Jeongreung Elementary School, Seoul, Korea
Untuk lebih
mengenalkan budaya negara-negara ASEAN kepada masyarakat Korea Selatan,
ASEAN – ROK Centre mengadakan School Tour Program ke beberapa sekolah di
Seoul. Tanggal 6 May 2010, giliran KBRI Seoul untuk mempromosikan seni
budaya dalam bentuk tarian tradisional di sebuah sekolah dasar di Seoul
yaitu Jeongreung Elementary School. Disamping Duta Besar RI Seoul,
Nicholas Tandi Dammen, hadir dalam kesempatan itu Sekretaris Jenderal
ASEAN – ROK Centre Duta Besar Cho Young Jai yang didampingi Kepala
Sekolah. Kegiatan itu dihadiri oleh sekitar 150 murid sekolah dasar yang
berumur sampai 12 tahun.
Dalam
sambutannya, Duta Besar RI menyatakan bahwa kegiatan ini merupakan
rangkaian kegiatan promosi budaya Indonesia yang dilakukan KBRI Seoul
kepada masyarakat Korsel. Diharapkan dengan lebih banyak pengetahuan
yang didapat mengenai Indonesia, anak-anak tersebut akan membujuk orang
tua dan keluarganya untuk berwisata ke Indonesia. Pada acara yang
berlangsung siang hari itu, sebagian besar anak-anak terlihat resah dan
mengantuk. Namun ketika Duta Besar RI menyelingi sambutannya dengan
bahasa Korea maka mereka terlihat antusias.
KBRI Seoul
juga menghadirkan seorang penari dari keluarga staf KBRI untuk menarikan
sebuah tari Bali. Usai menari, sang penari mengundang sejumlah murid
untuk belajar menari diatas panggung. Acara lain yang melibatkan para
murid SD tersebut adalah cara membuat wayang. Kegiatan berlangsung
meriah dan semua peserta nampak semangat dan antusias mempelajari budaya
Indonesia.
¡¡ |

Dari Sabang sampai Merauke, ratusan Tarian
Indonesia diperkenalkan kepada siswa-siswa di Korea Selatan
Jika
masyarakat Korsel berpikir sangat sulit untuk mempelajari kesenian
Indonesia, mereka langsung berubah pikiran setelah melihat betapa
mudahnya para siswa Korsel di Dongducheon Foreign Language School
mempelajari tarian Indonesia. Tidak tanggung-tanggung, tarian yang
diajarkan oleh Tim Kesenian KBRI Seoul pada acara Promosi Budaya
Indonesia di sekolah tersebut adalah tari Piring yang terkenal sangat
susah dikuasai. Namun setelah para siswa tersebut mempelajari beberapa
trik khusus untuk memegang piring tanpa jatuh, mereka tampak sangat
menikmati keunikan tarian tradisional asal Minangkabau tersebut.
Program
Promosi Budaya Indonesia kepada siswa Dongducheon Foreign Language
School yang dihadiri oleh lebih dari 500 orang siswa tersebut merupakan
akhir dari serangkaian kegiatan KBRI pada bulan April 2010 untuk
mempromosikan Indonesia kepada msyarakat Korea Selatan. Sebelumnya telah
diselenggarakan Pameran Batik Indonesia karya desainer batik Indonesia,
Obin, di Korea Foundation Cultural Center pada tanggal 1-21 April 2010,
serta Promosi Kuliner Indonesia oleh ahli kuliner Indonesia William
Wongso di Lotte Hotel, Seoul, pada tanggal 1-9 April 2010.
Dalam Program
Promosi Budaya Indonesia di Dongducheon Foreign Language School tersebut,
Duta Besar RI Seoul mengungkapkan bahwa Indonesia memiliki ratusan,
bahkan ribuan tarian tradisional yang tersebar di seluruh nusantara.
Namun karena keterbatasan waktu, hanya empat tarian yang dapat
dipertunjukkan kepada para siswa pada kesempatan kali ini, yaitu Tari
Piring dari Sumatera Barat, Tari Ngarojeng dari Betawi, Tari Jauk Keras
dari Bali, dan ditutup dengan Tari Seudati Ratoh dari Aceh. Tarian yang
dibawakan oleh para mahasiswa Indonesia dan ibu-ibu dari perkumpulan
mixed marriage di Seoul tersebut berhasil memukau para hadirin dan
memancing tepuk tangan yang sangat meriah. Acara Promosi tersebut
kemudian ditutup dengan sesi foto bersama dan makan siang bersama para
guru dan perwakilan siswa sekolah tersebut. Seoul, 17 April 2010
¡¡ |

Aneka Ragam Masakan Khas Indonesia di
Korea Selatan
Makanan khas
Indonesia yang terkenal mengandung bahan-bahan dan bumbubumbu yang rumit
ternyata dapat disajikan dengan mudah di manca negara. Hal tersebut
disampaikan oleh pakar kuliner Indonesia, William Wongso, di hadapan
sekitar lima puluh hadirin yang terdiri dari para istri staf KBRI Seoul
dan wanitawanita Indonesia dari keluarga pernikahan campuran, pada saat
demonstrasi memasak makanan Indonesia di Wisma Duta KBRI Seoul pada
tanggal 6 April 2010.
Lebih lanjut
lagi, William Wongso yang membawa serta tim kuliner dari William Cafe
Artistik miliknya itu, menyarankan agar para ibu jangan terlalu terpaku
pada bumbu-bumbu Indonesia yang biasanya sulit tersedia di luar negeri.
William Wongso menyarankan agar para ibu lebih kreatif dalam mencari
bumbu alternatif serta menyajikan makanan Indonesia di luar negeri.
Dalam acara
Demonstrasi Memasak Makanan Indonesia yang diprakarsai oleh KBRI Seoul
tersebut, dipraktekkan beberapa resep yang sangat populer di Indonesia,
antara lain yaitu nasi rendang, sop buntut Bangka, nasi goreng, dan opor
ayam lempah jamur. Para ibu yang mengikuti demonstrasi memasak tersebut
tampak sangat antusias dalam mencoba resep-resep tersebut.
Pada
kesempatan tersebut, Duta Besar RI Seoul telah menyampaikan apresiasi
kepada William Wongso yang secara khusus telah bersedia memberikan
demonstrasi memasak kepada para ibu Indonesia di Korea Selatan. Tim
William Wongso yang sedang berada di Seoul dalam rangka promosi kuliner
Indonesia di Lotte Hotel, Seoul dari tanggal 1-9 April 2010 tersebut
ternyata juga merasakan antusiasme yang sama dan merasa sangat gembira
dapat memberikan demonstrasi memasak kepada para ibu Indonesia yang
tinggal di luar negeri tersebut.
¡¡ |

Kecantikan Batik Indonesia memukau
masyarakat Korea Selatan
Batik
Indonesia merupakan warisan budaya tak benda (intangible cultural
heritage) yang telah mendapatkan pengakuan dari UNESCO pada tahun 2009.
Keunikan cara
pembuatan batik dan corak motif batik telah memunculkan pesona
tersendiri yang diharapkan dapat memberikan gambaran terhadap kebudayaan
Indonesia secara komprehensif.Hal tersebut disampaikan Duta Besar RI
Seoul, Nicholas T. Dammen, di hadapan sekitar seratus lima puluh tamu
undangan yang terdiri dari kalangan akademisi, pengusaha, dan korps
diplomatik, dalam acara Resepsi Pembukaan Pameran Batik Indonesia
bertajuk ¡°Wearable Art: Indonesian Batik Cloth Exhibition¡± yang
memamerkan ratusan kain batik koleksi rumah mode Bin House milik
desainer batik Indonesia, Josephine Komara (Obin), di Korea Selatan pada
tanggal 1 April 2010 di The Korea Foundation Cultural Center (KFCC),
Seoul.
Pameran Batik
Indonesia yang berlangsung dari tanggal 1-21 April 2010 itu merupakan
hasil kerjasama KBRI Seoul dengan Bin House, The Korea Foundation
Cultural Center, dan maskapai penerbangan nasional, Garuda Indonesia.
Pameran tersebut juga dilengkapi dengan side event berupa ceramah
tentang Batik Indonesia oleh Obin sendiri pada tanggal 5 April 2010 dan
Pemutaran empat buah Film Indonesia di KFCC selama bulan April 2010.
Selama bulan April 2010, KBRI Seoul secara aktif mengadakan serangkaian
kegiatan promosi budaya Indonesia di Korsel. Selain Pameran Batik
Indonesia, diselenggarakan juga Promosi Kuliner Indonesia di Hotel Lotte
Seoul pada tanggal 1-9 April 2010 oleh pakar kuliner Indonesia William
Wongso yang sekaligus melakukan Demonstrasi Memasak Makanan Indonesia di
Wisma Duta Seoul bagi masyarakat Indonesia dan asing pada tanggal 6
April 2010.
Selain itu,
KBRI Seoul juga akan mengadakan Promosi Kesenian Indonesia di
Dongducheon Foreign Language High School, Gyeonggi Province, pada
tanggal 17 April 2010.
¡¡ |

Pelaksanaan Pertemuan Masyarakat dengan
Menteri Koordinator Perekonomian RI, M. Hatta Radjasa, di KBRI Seoul
Pada Hari
Kamis, Tanggal 25 Maret 2010, bertempat di Wisma Duta, KBRI Seoul, Korea
Selatan telah diselenggarakan Acara Pertemuan Masyarakat Indonesia di
Korea Selatan dengan Menteri Perekonomian RI, Bapak M. Hatta Radjasa.
Kedatangan Menteri Koordinator Perekonomian RI sebagai Ketua Delegasi RI
dalam rangka The Second Joint Task Force RI-ROK on The Economic
Cooperation. Pada Acara Temu Masyarakat dimaksud dihadiri lebih dari 250
orang yang terdiri dari anggota delegasi RI, seluruh Staf KBRI Seoul dan
ITPC Busan, Perwakilan dari Paguyuban TKI, Mahasiswa, Mixed Marriage,
serta anggota masyarakat lainnya.
Pada
kesempatan acara pertemuan masyarakat, Duta Besar RI di Seoul, Bapak
Nicholas Tandi Dammen menyampaikan sambutan yang memaparkan perkembangan
hubungan bilateral RI-ROK di berbagai bidang dan prospek hubungan kedua
negara di masa yang akan datang, termasuk dampak positif dari
terselenggaranya The Second Joint Task Force kali ini, khususnya
kerjasama di bidang ekonomi dan investasi. Sedangkan Menteri Koordinator
Perekonomian RI, Bapak M. Hatta Radjasa memberikan ceramah tentang
beberapa hal terkait dengan kondisi di tanah air, serta tidak lupa
memberikan himbauan kepada masyarakat Indonesia di Korea Selatan untuk
arif dalam menyikapi kondisi dimaksud. Acara dilanjutkan dengan tanya
jawab yang diajukan oleh beberapa perwakilan dari Masyarakat Indonesia
di Korea Selatan yang hadir pada malam itu.
Acara
pertemuan masyarakat ini diselenggarakan di sela-sela rangkaian kegiatan
The Second JTF RI-ROK yang dimulai tanggal 25 Maret 2010 dengan
pertemuan 8 (delapan) Kelompok Kerja, yaitu di bidang Investasi dan
Perdagangan, Pertanian dan Kehutanan, Sumber Daya Mineral dan Energi,
Konstruksi dan Infrastruktur, Industri Pertahanan, Teknologi Informasi,
Penelitan dan Pengembangan, serta Kebijakan. Keesokan harinya, tanggal
26 Maret 2010 dilaksanakan Forum Bisnis RI-ROK dan Plennary Meeting
Joint Task Force RI-ROK.
Acara
pertemuan masyarakat merupakan kesempatan yang sangat bermanfaat dan
diharapkan oleh Masyarakat Indonesia di Korea Selatan, hal ini terlihat
dari banyaknya jumlah masyarakat yang hadir dan tingginya antusiasme
dengan berbagai pertanyaan yang diajukan oleh perwakilan masyarakat .
¡¡ |

Kunjungan Menko Perekonomian RI ke
Korsel dalam rangka pertemuan Joint Task Force on Economic Cooperation (JTF-EC)
Republic Indonesia - Republic of Korea
Pada tanggal
25-26 Maret 2010, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian RI Hatta
Rajasa menurut rencana akan mengadakan kunjungan ke Korea Selatan dalam
rangka mempimpin delegasi Indonesia ke Pertemuan Kedua Joint Task Force
antara Indonesia dan Korea Selatan (JTF RI-ROK ke-2).
JTF RI-ROK
yang dibentuk sebagai tindak-lanjut ¡°Joint Declaration on Strategic
Partnership to Promote Friendship and Cooperation in the 21st Century¡±
yang ditandatangani pada saat kunjungan Presiden Korsel Roh Moo-hyun ke
Jakarta tanggal 4 Desember 2006 tersebut bertujuan untuk lebih
meningkatkan hubungan yang saling menguntungkan bagi kedua negara
khususnya kerjasama di bidang ekonomi dan investasi. Pertemuan JTF RI-ROK
ke-1 diselenggarakan di Jakarta pada tanggal 30 April – 1 Mei 2007 dan
saat itu dibuka oleh Wakil Presiden RI Jusuf Kalla. Delegasi Indonesia
dipimpin oleh Menteri Koordinator Bidang Perekonomian selaku Ketua JTF
pihak Indonesia, dan dari delegasi Korea yang berjumlah 150 orang lebih
dipimpin oleh Minister of Commerce, Industry and Energy yang sekarang
berubah nomenklaturnya menjadi Ministry of Knowledge and Economy.
Agenda
pertemuan JTF RI-ROK ke-2 di Seoul kali ini akan diawali dengan
pertemuan delapan working group (WG) yang dipimpin oleh masing-masing
Ketua Working Group dari kedua negara, yang meliputi WG tentang
Kebijakan/Policy, WG tentang Perdagangan dan Investasi, WG tentang
Energi dan Sumber Daya Mineral, WG tentang Insfrastruktur dan Konstruksi,
WG tentang Teknologi Informasi, WG tentang Industri Pertahanan, WG
tentang Kehutanan dan Pertanian, dan WG tentang Riset dan Pengembangan.
Selanjutnya, hasil-hasil kesepakatan dari pertemuan WG akan diadopsi
pada Pertemuan Plenary yang dipimpin bersama oleh Menteri Koordinator
Bidang Perekonomian RI dan Ministry of Knowledge Economy ROK.
Selain itu,
JTF RI-ROK Ke-2 juga akan menyelenggarakan Forum Bisnis Indonesia-Korea,
dimana dalam forum bisnis tersebut para pengusaha RI dan Korea Selatan
dapat melakukan interaksi bisnis melalui one on one meeting dan
pertemuan bisnis lainnya. Selain menghadiri JTF RI-ROK ke-2, Menko
Perekonomian Hatta Rajasa akan diterima oleh Perdana Menteri Repubik
Korea, HE Chung Un-chan pada tanggal 26 Maret 2010 pagi hari. Selain itu
Menko Perekonomian juga akan mengadakan tatap muka dengan masyarakat
Indonesia di Korsel yang menurut rencana akan diselenggarakan di Wisma
Indonesia KBRI Seoul pada tanggal 25 Maret 2010 malam harinya.
¡¡ |

Komisi Anggaran DPR-RI dan Komisi A
DPRD Provinsi Jatim ke Korea Selatan
Duta Besar RI
untuk Republik Korea, Nicholas T. Dammen, pada 22 Februari 2010 telah
menyelenggarakan pertemuan dengan delegasi Komisi Anggaran DPR-RI yang
dipimpin oleh Dr. Harry Azhar Azis, MA dan Komisi A DPRD Provinsi Jawa
Timur dibawah pimpinan H. Sabron Djamil Pasaribu, SH, M.Hum di Wisma
Duta. Hadir dalam acara tersebut seluruh staf KBRI Seoul dan ITPC Busan
beserta isteri/suami.
Selain
mengadakan pertemuan dengan Duta Besar dan staf KBRI Seoul, tujuan utama
Komisi Anggaran DPR-RI melakukan kunjungan ke Korea Selatan adalah untuk
mempelajari peranan parlemen setempat dalam menetapkan anggaran negara,
dan juga untuk meningkatkan pengetahuan dan wawasan mengenai mekanisme
penentuan anggaran dan instrumen-instrumen yang digunakan dalam
menentukan kebijakan fiskal dan moneter, serta pengawasan dan
pertanggungjawaban APBN. Selain itu kunjungan ke luar negeri juga untuk
mendapatkan masukan mengenai tugas-tugas dari Budget Office yang ada di
parlemen Republik Korea sebagai bahan masukan dalam rangka pembentukan
Budget Office sebagai supporting unit DPR-RI.Selama kunjungan, Komisi
Anggaran DPR-RI melakukan serangkaian pertemuan dengan NABO (National
Assembly Budget Office) dan Budget Committee National Assembly (Parlemen)
dan Kementerian Strategi dan Keuangan Korea Selatan.
Sementara itu,
19 anggota Komisi A DPRD dan 6 pejabat Pemda Provinsi Jatim berkunjung
ke Korea Selatan dalam rangka mengikuti pelatihan mengenai implementasi
pelayanan publik selama seminggu yang diselenggarakan oleh LOGONDI
(Local Government Officials Development Institute) Korea Selatan
bekerjasama dengan Badan Diklat Pemerintah Provinsi Jawa Timur. Kegiatan
ini merupakan pelaksanaan
ketentuan Perda no. 11 Tahun 2005 dalam upaya meningkatkan wawasan,
pengetahuan dan pengembangan manajemen pemerintah, utamanya di bidang
pelayanan publik.
Dalam
pertemuan di Wisma Duta, Duta Besar menyampaikan informasi secara garis
besar tentang perkembangan hubungan bilateral antara Indonesia dan Korea
Selatan yang menunjukkan peningkatan sejak dibukanya hubungan diplomatik
sejak 1966 hingga saat ini. Hubungan bidang politik RI-ROK selama ini
tidak pernah mengalami masalah serius dan selalu berjalan dengan baik.
Pemerintah Korsel mendukung sepenuhnya masalah integritas wilayah RI dan
menghargai proses demokratisasi di Indonesia. Sebaliknya, Pemerintah RI
secara konsisten mendukung proses reunifikasi Korea secara damai.
Hubungan persahabatan dan kerjasama RI-ROK dikatakan terus dapat
dipertahankan dan bahkan nampak meningkat di berbagai bidang, utamanya
ekonomi perdagangan, pendidikan dan sosial budaya mengingat hubungan
kedua negara bersifat saling melengkapi di mana ROK dipandang dapat
memberikan sumbangan berarti bagi perekonomian Indonesia khususnya
investasi dan teknologi, sementara Indonesia dipandang sebagai negara
yang memiliki sumber kekayaan alam melimpah. Selain itu,
people-to-people contact kedua negara cukup tinggi ditandai dengan
saling kunjung misi kebudayaan kedua negara, pertukaran pelajar dan
banyaknya warga negara masing-masing yang bekerja di kedua Negara.
¡¡ |

Kegiatan CISAK (Conference of Indonesia Students
Association in Korea) di KBRI Seoul
Dengan semakin
meningkatnya jumlah mahasiswa penerima beasiswa antara Indonesia dan
Korea Selatan, baik mahasiswa Indonesia yang belajar di Korea maupun
sebaliknya, maka diharapkan agar para pelajar Indonesia di Korsel dapat
memanfaatkan semaksimal mungkin waktu dan tenaganya untuk menyerap ilmu
pengetahuan sebanyak banyaknya di berbagai bidang, apalagi mengingat
Iptek Korsel dewasa ini telah mampu bersaing dengan Iptek negara-negara
maju lainnya yang besar bermanfaatnya apabila diterapkan bagi
pembangunan Indonesia kelak.
Harapan tersebut telah
disampaikan oleh Duta Besar RI Seoul, Nicholas T. Dammen, di hadapan
sekitar 200 pelajar Indonesia yang hadir dalam pertemuan tahunan pelajar
Indonesia di Korea Selatan yang disebut CISAK (Conference of Indonesia
Students Association in Korea) di KBRI Seoul pada hari Sabtu, 20
Februari 2010. Duta Besar juga mengharapkan kegiatan seperti ini dapat
terus dikembangkan di waktu-waktu mendatang, tidak hanya bagi
mahasiswa-mahasiswa Indonesia di Korsel saja, melainkan juga antar
mahasiswa Indonesia dan mahasiswa Korsel yang belajar di Indonesia Dalam
acara CISAK tahun ini telah diundang secara khusus Dr. Khoirul Anwar,
Associate Professor dari Japan Institute of Science and Technology (JAIST)
yang memberikan paparannya mengenai ¡°Building National Competitiveness:
Going Home or Staying Abroad¡±.
Selain itu,
Koordinator Fungsi Konsuler dan Atase Pertahanan KBRI Seoul
masing-masing telah bergiliran memberikan paparannya mengenai masalah
kewarganegaraan dan Perlindungan WNI di luar negeri serta mengenai isu
keamanan dan perkembangan di Semenanjung Korea. Keduanya merupakan isu
penting yang bermanfaat bagi WNI yang berada di luar negeri.
Selain ketiga paparan
di atas, para pelajar Indonesia di Korsel juga bergantian berbicara di
depan forum untuk berbagi ilmu kepada sesama rekan pelajar dan mahasiswa
Indonesia, serta kepada para mahasiswa Korea Jurusan Bahasa Indonesia.
Kegiatan tahunan CISAK yang diselenggarakan oleh PERPIKA (Persatuan
Pelajar Indonesia di Korea) dan didukung oleh KBRI Seoul ini benar-benar
dimanfaatkan oleh semua peserta untuk saling berbagi pengalaman,
menggali informasi tentang kehidupan pelajar dan tantangannya di masa
depan, serta mengembangkan awareness terhadap situasi dan kondisi negara
setempat dimana mereka menimba ilmu.
Selain dihadiri oleh
para pelajar Indonesia di Korsel, acara CISAK ini juga dihadiri oleh
sekitar dua puluh mahasiswa Korea dari Hankuk University of Foreign
Studies (HUFS) Jurusan Bahasa Indonesia, beberapa mahasiswa Indonesia
yang sedang belajar di Jepang, serta jajaran staf KBRI Seoul sendiri. |

Rencana Penyematan Bintang Kartika Eka Paksi Utama
Bagi Mantan Chief of Staff ROK Army
Pada hari Sabtu
tanggal 30 Januari 2010, Duta Besar RI untuk Korea Selatan/ROK, Nicholas
Tandi Dammen beserta Ny. Lenny Dammen telah menyelenggarakan jamuan
makan malam/Welcoming Reception bagi mantan KSAD (COS–Chief of Staff)
ROK Army General (Ret.) Lim Choung Bin beserta istri.
Acara yang diadakan di Wisma Duta ini dihadiri juga oleh Atase
Pertahanan RI di Seoul, Kolonel Laut (E) Agus Rustandi dan istri serta
seluruh home staff KBRI Seoul.
Jamuan ini dilaksanakan dalam rangka rencana penganugerahan ¡°Bintang
Kartika Eka Paksi Utama¡±(BKEPU) oleh Pemerintah Indonesia kepada General
(Ret.) Lim Choung Bin berkat jasa-jasa beliau selama menjabat sebagai
COS ROK Army yang telah berhasil menjaga dan meningkatkan hubungan erat
kedua Angkatan Darat dari kedua negara, sehingga kerjasama dan hubungan
yang baik tersebut telah meningkatkan kemampuan dan profesionalisme
kedua angkatan darat. BKEPU yang merupakan tanda penghargaan tertinggi
di TNI AD ini akan disematkan kepada Jenderal Lim Choung Bin oleh
Panglima TNI Jenderal TNI Djoko Santoso di Mabes TNI Jakarta pada
tanggal 8 Februari 2010.
Penganugerahan ini
diharapkan bisa lebih mempererat lagi hubungan dan kerjasama militer RI-ROK
pada umumnya dan angkatan darat kedua negara pada khususnya.
Penganugerahan BKEPU kepada Jenderal Lim Choung Bin sebenarnya telah
diputuskan sejak Jenderal Lim Choung Bin masih menjabat sebagai COS ROK
Army, namun kesibukan dan kegiatan yang cukup padat dari kedua belah
pihak telah menyebabkan upacara penganugerahan ini tertunda. Untuk acara
penyematan ini, Jenderal Lim akan berada di Indonesia dari tanggal 6
hingga 9 Pebruari 2010. |
|

Apresiasi Indonesia untuk Kontribusi Pengusaha Korsel bagi
Pembangunan Ekonomi Indonesia
Pemerintah Indonesia memberikan apresiasi terhadap tiga pengusaha Korea
Selatan (Korsel) yang dinilai berkonteribusi terhadap upaya pembangunan
ekonomi nasional. Jasa mereka tidak semata-mata dinilai dari
besaran investasi/kontribusi materil yang diberikan namun kepada
penciptaan sinergi dan kerjasama dalam peningkatan hubungan ekonomi
Indonesia-Korsel.
Apresiasi tersebut dinyatakan melalui pemberian
plakat penghargaan oleh Duta Besar RI untuk Korea Selatan, Nicholas
Tandi Dammen,kepada Mr. Ted Kwon dari Easterntex Ltd., dan Mr. Lee
Deog-kyu bersama Mr. Kang Yun-chul dari Lee, Kang & Partners Inc, 28
Januari 2010.
Mr. Ted Kwon dinilai sangat konsisten membantu terciptanya iklim
investasi yang lebih kondusif
di Indonesia. Ia menyuarakan
kekhawatiran investor Korsel terhadap salah satu peraturan
perpajakan Indonesia yang akan mengurangi daya saing di sektor
tekstil dan garment.
Hasil upaya bersama investor
tekstil dan garment Korea Selatan dengan KBRI Seoul dalam mendorong
deregulasi di Indonesia sejak tahun 2006 akhirnya membuahkan hasil
dengan dibentuknya UU No. 42 Tahun 2009 mengenai Pajak Pertambahan Nilai
Barang dan Jasa dan Pajak Penjualan Barang Mewah yang disahkan DPR-RI
pada Oktober 2009.
Mr. Lee Deog-kyu dan Mr. Kang
Yun-chul, berkontribusi bagi tercapainya kesepakatan pembelian 4 unit
pesawat CN-235 Maritime Patrol Aircraft produksi PT. Dirgantara
Indonesia oleh Korean Coast Guard senilai US$ 93,9 juta.
Penganugerahan plakat penghargaan
tersebut diselenggarakan dalam working luncheon untuk menghormati para
penerima penghargaan dan turut dihadiri oleh sejumlah pengusaha Korea
Selatan terkait dan staf KBRI Seoul.
Acara ini merupakan pendahuluan
dari New Year Business Gathering yang diselenggarakan KBRI Seoul 29
Januari 2010, guna mengambil momentum peringatan tahun baru 2010 dan
Lunar New Year yang jatuh pada pertengahan Februari 2010. Kegiatan ini
ditujukan untuk menjaga kelangsungan jejaring yang telah terbina selama
ini guna mendukung kerjasama antara investor dengan KBRI Seoul. |
|
Pengusaha
Korea Antusias Bisnis Di Indonesia
Saya senang berbisnis
dengan Indonesia dan saya akan memperluas pabrik saya di Purwakarta,¡±
demikian dikatakan pimpinan perusahan Sae-A Trading Co. Ltd., salah satu
perusahaan garmen/tekstil terkemuka Korea yang memiliki beberapa pabrik
di Indonesia. Pernyataan ini diucapkan di sela-sela resepsi yang
diselenggarakan KBRI Seoul, Jum¡¯at (29/1), dalam rangka menyambut tahun
baru bersama dengan para investor dan pengusaha Korea, yang juga
dimeriahkan oleh tari Pendet dan Seudati dari Sanggar Kesenian KBRI
Seoul.
Dalam sambutannya di depan sekitar 100
pengusaha Korea yang hadir pada acara tersebut, Duta Besar
RI untuk Republik Korea, Nicholas T. Dammen menyatakan bahwa
hubungan dan kerjasama antara Indonesia dan Republik Korea
telah berlangsung sangat baik di berbagai tingkatan, bidang
dan forum kerjasama. Refleksi harmonis hubungan kedua negara
itu dapat ditengarai dari intensnya hubungan Presiden Susilo
Bambang Yudhoyono dan Presiden Lee Myung-bak dalam
meningkatkan kerjasama bilateral di berbagai bidang dan
forum kerjasama regional hingga global, seperti ASEAN, ARF,
APEC dan G-20.
Dubes N.T. Dammen juga mengindikasikan
peluang kerjasama ekonomi yang masih terbuka luas antara
kedua negara dalam konteks hubungan yang dinamis dan saling
melengkapi. Sejumlah kesepakatan yang dicapai selama ini dan
tren semakin menguatnya bobot kerjasama di tingkat G-to-G,
G-to-P maupun P-to-P,
baik secara kualitas maupun kuantitas membuktikan hal ini.
Pada kesempatan itu, Dubes N.T. Dammen
kembali menyampaikan apresiasinya terhadap kontribusi
kalangan bisnis Korea bagi pemajuan hubungan bilateral,
utamanya bagi kemajuan pembangunan ekonomi kedua negara dan
mengharapkan tetap dapat dipertahankan bahkan ditingkatkan
lagi pada tahun 2010 ini.
Turut hadir dalam New
Year Business Gathering ini
adalah Dubes Yun Hai-jun, mantan Dubes Republik Korea untuk
Indonesia sekaligus sebagai Ketua Korea-Indonesia
Friendship Association(KIFA) dan Prof. Dr. Kim Soo-il,
mantan Dubes Republik Korea untuk Timor Leste yang juga
mantan Konsul Kehormatan RI di Busan.
Dubes Yun dalam sambutannya menyampaikan
rasa gembiranya atas tetap dinamisnya hubungan perdagangan
dan investasi antara Indonesia dan Korea, meskipun dampak
krisis keuangan global pada tahun 2009 mempengaruhi volume
perdagangan dan investasi antara kedua negara.
Menurut Dubes Yun, resistensi Indonesia
terhadap dampak krisis keuangan global serta cepatnya
pemulihan ekonomi Republik Korea, menjadi pendorong utama
bagi pengusaha Korea untuk menjadikan Indonesia sebagai
negara tujuan investasinya. Dubes Yun juga memprediksi
prospek Indonesia yang lebih baik lagi sekiranya berbagai
kendala yang berdampak negatif terhadap iklim investasi
Indonesia dapat diatasi.
Baru-baru ini beberapa investor Korea
telah menorehkan kesepakatan dan komitmennya untuk
meningkatkan investasinya di Indonesia. Perusahaan Sae-A
Trading Co. Ltd., berencana memperluas investasinya di
Indonesia dengan membangun pabrik dye sebagai
bagian proses pembuatan tekstil di lahan seluas sekitar 100
hektar di Purwakarta, senilai US$ 160 juta.
Pada 2 Desember 2009, perusahaan baja
terbesar Korea, POSCO (Pohang Steel Company) telah
menandatangani nota kesepahaman dengan Krakatau
Steel untuk
membangun Integrated
Steel Mills di
Cilegon, Banten, dengan nilai investasi US$ 5 milyar.
Sebelumnya, pada akhir September 2009,
Gubernur Sulawesi Tengah dan Gubernur Jeollanamdo telah
menandatangani nota kesepahaman menyangkut kerjasama kedua
provinsi di bidang budi daya hayati laut dan komitmen
investasi Korea untuk pengembangan bio-energi di Sulteng.
Hal ini sebagian dari bukti minat investor Korea untuk
menanamkan modalnya di Indonesia.
Kegiatan yang mengambil momentum
peringatan tahun baru 2010 dan Lunar
New Year yang
jatuh pada pertengahan Februari 2010 ini, ditujukan untuk
menjaga kelangsungan jejaring dan kerjasama yang telah
terbina selama ini antara investor dengan KBRI Seoul. Di
samping itu, pertemuan juga diharapkan dapat memberikan
informasi terkini mengenai iklim usaha, program utama
pemerintah serta peluang investasi di Indonesia bagi
investor asal Korea. Informasi ini diharapkan dapat menarik
minat pengusaha Korea untuk meningkatkan dan memperluas
investasi mereka di Indonesia.
|

Worldshore Corp mengirimkan 24 orang Mahasiswa Korea ke Indonesia
Pada hari Senin, 18 Januari 2010
Duta Besar RI Seoul, Nicholas Tandi Dammen telah diundang oleh
Worldshare Corporation, untuk memberikan ceramah di Seoul Youth Center
tentang kebudayaan Indonesia kepada 24 orang mahasiswa Korea dari
berbagai universitas yang akan berangkat ke Indonesia sebagai peserta
program Pengabdian Masyarakat/Social Service. Program ini merupakan
salah satu bagian dari kurikulum pendidikan perguruan tinggi di Korea
untuk melakukan kegiatan social services ke negara-negara Asia maupun
Afrika.
Peserta tahun ini dibagi dalam 2
kelompok yang masing-masing akan diberangkatkan ke Kenya dan Indonesia.
Di Indonesia mereka akan melakukan serangkaian kegiatan sosial dari
tanggal 19 Januari hingga 1 Februari 2010 seperti mengajar murid-murid
SD dan membantu pembangunan perpustakaan beberapa sekolah di daerah
Jakarta, Bandung dan sekitarnya.
Dalam ceramah tersebut Duta Besar RI telah memberikan paparan umum
mengenai kebudayaan Indonesia, baik dari adat istiadat, bahasa,
demografi, kekayaan alamnya hingga obyek-obyek wisata yang menonjol di
masing-masing daerah. Karena rombongan juga akan mengunjungi Bandung dan
Pengalengan, maka Duta Besar juga mengajarkan lagu ¡°Halo-halo Bandung¡±
yang dinyanyikan secara antusias dan bersemangat oleh para peserta.
Worldshare Corporation merupakan sebuah LSM yang bekerjasama dengan
KUCSS/Korean University Council for Social Services, sebuah badan
pendidikan dibawah koordinasi Kementerian Pendidikan Korsel. ¡¡ |
|
¡¡ |